04 Juli 2007

Denah dan Peta Menuju Rumah Wisata Pakis Asri






MENIKMATI WISATA AIR TERJUN DI GUNUNG SALAK

Ritual malam minggu pergi ke Puncak, Jawa Barat tidak lagi menjadi ide yang sangat menarik. Untuk menikmati malam dingin dengan pemandangan memukau diperlukan tenaga dan kesabaran ekstra.

Mobil yang berjejalan ingin mencapai Puncak menimbulkan kemacetan panjang. Padahal malam itu jalan sudah one way (satu jalur).
Untuk sekadar meninggalkan penat rutinitas Jakarta, Bogor memang salah satu tempat pelarian yang paling asyik. Tentunya kota hujan tidak hanya identik dengan Puncak, banyak lokasi wisata yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung.
Keelokan alamnya sangat menonjol, karena itu keberadaan vila PAKIS ASRI yang membidik pemandangan cantik tentu saja membawa kesan tersendiri. Ada beberapa tempat wisata asyik lain yang dimiliki Bogor selain Puncak. Kami merekomendasikan Anda untuk jalan-jalan ke Kawasan Wisata Gunung Salak Endah di kaki Gunung Salak
Tidak akan terlalu sulit menjumpainya. Letaknya sekitar tiga jam dari Jakarta atau dua jam dari pusat kota Bogor. Beberapa pilihan alam eksotik menunggu dengan tangan terbuka. Seperti kawah dan air terjun yang lazim disebut curug.
Objek wisata pertama yang menarik perhatian adalah Kawah Ratu. Cocok bagi pelancong yang ingin menikmati liburan dalam suasana berbeda.
Kawah yang terletak di atas ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut ini sangat menarik. Namun, layaknya kawah lain, wangi sulfur menyembul kuat menemani kenikmatan pemandangan yang ada.
Lepas dari Kawah Ratu, ada beberapa curug yang wajib dikunjungi di kawasan wisata Gunung salak Endah. Salah satunya adalah Curug Ngumpet yang memiliki ketinggian sekitar 45 m.

Ada lagi Curug Seribu, sangat menarik karena ketinggiannya sendiri mencapai sekitar 100 m. Kedua curug memiliki pemandangan alami yang membuat nyaman mata memandang sekeliling.

Curug ketiga adalah Curug Cigamea. Pemandangan yang disuguhkan tidak kalah seru dengan curug lainnya.


PETUALANGAN DI GUNUNG SALAK ENDAH

From : faisal.idris.blogspot.com

Dari stasiun Bogor, kami naik angkot 03, turun di terminal Leuwiliang. Lama perjalanan sekitar 45 menit, dan bayar Rp 3000. Dari terminal Leuwiliang, kami naik angkot yang melewati pertigaan Cibatok. Lama perjalanan sekitar 45 menit juga, bayar Rp 4000. Dari pertigaan Cibatok, kami berlima mencarter angkot untuk langsung menuju ke lokasi Curug. Biaya carter Rp 50.000, belum termasuk uang masuk ke kawasan Gunung Salak Endah sebesar Rp 3000 per orang. Dari pertigaan Cibatok hingga ke lokasi, jalannya mendaki.


Mungkin ketika Anda browsing tentang curug Cihurang, curug Ngumpet, curug Seribu dan curug Cigamea, Anda akan bingung, sebenarnya keempat curug ini terletak di kawasan Gunung Salak Endah, atau di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, atau di Wana Wisata Gunung Bundar?

Well, pertanyaan itu akan terjawab begitu angkot melintasi gapura bertuliskan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, lalu beberapa meter ke depan terdapat gapura selamat datang di Wana Wisata Gunung Bundar, dan kemudian ada papan arah Kawasan Gunung Salak Endah. Intinya, yah, tiga nama area tersebut memang merupakan lokasi keberadaan empat curug di atas.

Setelah melintasi gapura-gapura tersebut, angkot kami terus melaju di tengah hijaunya pepohonan di kanan kiri jalan, dan segarnya udara pegunungan. Curug pertama yang kami singgahi adalah Curug Cihurang. Setelah menurunkan kami, angkot pun pulang. Untuk masuk ke Curug Cihurang, kami membayar tiket masuk sebesar Rp 2500. Dari pintu masuk, kami berjalan sekitar 150 meter untuk sampai ke air terjunnya. Curug Cihurang ini tidak terlalu tinggi, tapi cukup bersih dan terawat. Ada dua jalur turunnya (atau terjunnya?) air. Kolam air di bawah curug pun tidak terlalu dalam, sehingga kita bisa foto tepat di depan dinding curug.

Setelah curug Cihurang, kami melanjutkan perjalanan ke curug berikutnya. Kami bertanya terlebih dulu ke warung di depan pintu masuk curug Cihurang. Menurut si Ibu, curug selanjutnya adalah curug Ngumpet, dan jaraknya dekat. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Oke deh, yuk mari.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan aspal. Di kiri kami adalah hutan, dan di kanan kami adalah lembah. Ada juga pohon cemara di beberapa bagian. Kan, pas banget nih, saya yakin si pencipta lagu “naik-naik ke puncak gunung” mendapatkan inspirasinya di sini. Setelah berjalan sekitar 20 menit, belum ada tanda-tanda curug Ngumpet itu. Apa dia memang ngumpet?

Hey lihat, di depan sana ada warung-warung makan. Biasanya nih, di mana ada lokasi wisata, di situlah ada warung makan. Kami pun kembali semangat. Ternyata eh ternyata, warung-warung ini ternyata untuk menuju ke lokasi Kawah Ratu. Bukan berarti kami salah jalur, lho. Ya sudahlah, mumpung ada warung, kami makan dulu. Ternyata memang benar ya, kalau mau merasakan mie rebus paling enak sedunia, makanlah di tengah dinginnya udara pegunungan sehabis jalan kaki 30 menit. Maknyuss..

Setelah mengisi perut, kami kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan adik kecil penjual asongan. Menurutnya, lokasi curug Ngumpet tuh “udah deket kok”. Yuk mari. Sudah dekat katanya. Di tengah perjalanan, kami melintasi lokasi syuting “Be A Man”. Itu lho, acara TV yang bermisi untuk mem-pria-kan para waria. Ya ampun booo...

Setelah berjalan sekitar 10 menit, kok belum juga ada tanda-tandanya? At this point of the marching, kami pun sepakat untuk membuat “Kamus Bahasa Gunung”. Dalam kamus ini, kalau mereka bilang “dekat”, maka artinya adalah “jauh”. Kalau mereka bilang “lumayan”, maka artinya “jauh banget”. Nah, kalau mereka bilang “jauh”, nah ini artinya “lo nggak usah ke sana deh”.

Finally, kami melihat papan nama curug Ngumpet. Again, untuk memasuki lokasi ini, kami membayar tiket masuk sebesar Rp 2500 per orang. Jarak dari pintu masuk sampai ke air terjun lumayan jauh, mungkin ada 200 meter. Curug Ngumpet ini lebih tinggi daripada curug Cihurang. Kolam airnya pun lebih dalam. Di sini juga banyak batu-batu sungai segede gajah. Asumsi kami, mungkin kalau musim hujan deras, lokasi ini bisa-bisa berubah menjadi sungai kecil. Sayangnya, kebersihan curug Ngumpet ini tidak dijaga. Jadi sedikit nggak nyaman untuk menikmati curug ini. Berbeda dengan Curug Cihurang yang memang bersih dan rapi.

Kami melanjutkan perjalanan ke curug selanjutnya. Saat melewati pintu keluar, kami bertanya ke si bapak tiket. Menurutnya, setelah ini kami bisa lanjut ke curug Cigamea saja, karena kalau curug Seribu mah “jauh”. NOTE, ingat Kamus Bahasa Gunung tadi, kalau “jauh” berarti “nggak usah ke sana”. Maka kami memutuskan untuk langsung saja ke Curug Cigamea.

Karena sudah kapok berjalan kaki, maka kami berinisiatif untuk naik ojeg ke curug Cigamea. Tapi mereka minta tarif 10.000 per ojeg, while kami berlima. Hmm, mahal juga jatuhnya. Akhirnya kami memutuskan untuk sewa mobil, tapi masalahnya nggak ada mobil yang available di lokasi tsb. Untung ada mobil bak pasir yang ternyata memang akan melintasi curug Cigamea. Dan pak supir mengizinkan kami menumpang. Hore!

Setelah 15 menit ber-mobil pasir-ria, kami tiba di lokasi curug Cigamea. Kami memberikan uang rokok Rp 15.000 untuk berlima kepada pak supir. Again, untuk memasuki lokasi, kami membayar tiket masuk Rp 2500 per orang. Lalu, kami harus menuruni tangga sekitar 200 meter jaraknya hingga akhirnya mencapai curug. Nah lho, kebayang deh siksaan nanti saat pulang, harus mendaki tangga sejauh ini. I guess this is one of the reason kenapa di gym ada alat buat latihan nanjak.

Dan ternyata, curug Cigamea ini twin waterfall. Seperti curug Cihurang, ada dua jalur turunnya air. Bedanya, kalau curug Cihurang itu pendek dan jarak kedua jalurnya berdekatan, nah curug Cigamea ini tinggi banget dan jarak kedua jalurnya pun berjauhan. Keren!

Air terjun pertama berdinding bebatuan hitam. Kolam airnya tidak terlalu dalam dan dijejali bebatuan sungai pula. Seru buat foto-foto persis di bawah air terjunnya. Kami pun harus lihai memanjati bebatuan itu untuk masuk ke kolam airnya. Sementara, dinding air terjun kedua berwarna cokelat dan hijau lumut. Kolam airnya cukup dalam. Ada beberapa ABG yang berenang di sana. Di lokasi ini juga ada beberapa monyet yang cukup jinak untuk diajak foto bareng.

Curug Cigamea ini nampaknya lebih dikembangkan daripada curug Cihurang dan Curug Ngumpet. Berbeda dengan kedua curug yang kami singgahi sebelumnya, di curug Cigamea terdapat kamar mandi yang bersih, mushalla yang nyaman dan beberapa warung makan yang berjejer rapi. Crowd di sini pun lebih ramai daripada di kedua curug sebelumnya.

Well, it’s a fun exploration we had there. Menikmati serunya hunting air terjun yang terletak tidak jauh dari Jakarta, dan menghabiskan budget tidak lebih dari Rp 100.000 (yippiee!!).



PEMANDIAN AIR PANAS CIPARAI

PEMANDIAN AIR PANAS CIPARAI

Potensi Alam dan Lokasi Rekreasi di Gunung Salak


Curug Cadas Ngampar

Curug Cadas Ngampar merupakan sebuah air terjun di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Bogor. Belum banyak orang yang tahu tentang curug ini mungkin karena tidak ada akses yang bisa di lewati. Beberapa bulan yang lalu, jalan ini resmi dibuka untuk umum sehingga Anda bisa mengunjunginya sekarang. Di Curug Cadas Ngampar terdapat pula Curug Putri dan Curug Panganten yang letaknya sedikit terpisah, tetapi tidak begitu berjauhan. Bila berkunjung ke sana, Anda akan melewati jalan berbatu menurun ditemani hutan pinus di sebelah kiri dan kanan jalan. Suasana asri akan Anda temukan. Yang membedakan curug ini dengan curug yang lain adalah kondisi tempat yang masih alami karena masih sangat sedikit sekali sentuhan kaki dan tangan manusia. Sebelum mencapai Curug Cadas Ngampar, Anda akan menemukan persimpangan jalan yang memisahkan antara Curug Putri dan Curug Penganten. Untuk menuju ke Curug Putri tidak jauh, Anda tinggal jalan ke hulu sungai dan mengambil arah kanan. Curug Putri memiliki ketinggian sekira 7 meter dan lebar kolam sekira 5 meter. Aliran air yang cukup pelan dan jernih ini sangat sayang untuk Anda lewatkan. Sedangkan untuk arah ke sebelah kiri adalah jalur akses menuju ke bagian bawah Curug Cadas Ngampar dan Curug Penganten.


Curug Cigamea

Curug Cigamea berlokasi di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, yang merupakan bagian dari kawasan wisata Gunung Salak Endah (GSE_. Untuk menuju ke lokasi air terjun, pengunjung diharuskan berjalan kaki dari areal parkir, melalui jalan menurun kurang lebih 350 meter. Curug Cigamea terdiri dari dua buah air terjun utama dengan karakter yang berbeda. Air terjun pertama yang lebih dekat dengan jalan masuk, berupa air terjun dengan tebing curam menyerupai dinding dan didominasi bebatuan warna hitam. Tipe air yang jatuh lebih bersifat percikan air yang langsung melimpah jatuh dan cukup deras meskipun nampak jelas tidak sederas air terjun kedua.


Curug Ngumpet

Curug Ngumpet adalah satu dari beberapa air terjun berukuran sedang yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Air terjun dan kawasan hutan lindung yang sangat luas ini barangkali tidak seterkenal dan tidak semaju daerah Puncak. Namun kawasan ini menawarkan pengalaman yang unik, khususnya bagi yang suka menikmati udara segar dalam wilayah hutan rindang yang aman, bersantai di perkemahan, atau melakukan jelajah ringan sampai berat ke beberapa air terjun. Curug Ngumpet yang indah ini ditempuh dalam waktu 2-3 jam dari Jakarta, arah ke Selatan.

Curug Seribu

Curug Seribu terletak di daerah kawasan wisata Gunung Salak Endah, tepatnya di Wana Wisata Gunung Bunder, Pamijahan, yang masih berada di wilayah Kabupaten Bogor. Ketika Anda sampai di kota Bogor, pilih arah IPB. Setelah beberapa kilometer melewati IPB, Anda akan menemukan sebuah jalan menuju ke Gunung Bunder melewati Cikampak dengan jalur yang sedikit sulit, atau alternatif lain melewati Cibatok yang relatif lebih aman untuk kendaraan roda empat jenis. Tempat ini termasuk dalam kawasanTaman Nasional Gunung Halimun Salak. Gunung Bunder sendiri merupakan hutan milik Perhutani yang sebagian besar ditumbuhi pohon pinus. Di kawasan Gunung Bunder, Anda bisa menemukan beberapa tempat wisata menarik seperti Curug Cadas, Curug Cihurang, Curug Ngumpet,Curug Cigamea, Curug Pangeran, dan Curug Seribu. Selain itu, terdapat juga kawasan wisata Kawah Ratu. Dengan ketinggian mencapai 1050 meter dari permukaan laut, Wana Wisata Gunung Bunder adalah tempat yang sejuk dan masih cukup alami. Dan lokasi ini bisa menjadi alternatif wisata selain kawasan Puncak yang sudah cukup padat. Di kawasan ini juga terdapat camping ground bagi Anda yang senang berkemah, dan juga tersedia fasilitasoutbound. Anda juga rute treking dan hiking yang bisa ditelusuri untuk menuju berbagai air terjun di kawasan ini.



Curug Cihurang

Curug Cihurang memiliki dua jalur (tumpahan) air terjun yang ketinggian airnya masing-masing tidak terlalu tinggi, tapi cukup bersih dan terawat. Kolam air di bawah curug pun tidak terlalu dalam, sehingga pengunjung bisa berfoto tepat di depan dinding curug. Curug ini berada di ketinggian sekitar 890 m dari permukaan laut (dpl) dan termasuk dalam Kawasan Wisata Gunung Salak Endah (GSE) di kaki Gunung Salak di bawah naungan TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak).







KAWAH RATU

Tracking Ke Kawah Ratu Gunung Salak Endah

Selain wisata mengunjungi air terjun, di kawasan wisata Gunung Bunder, Anda juga bisa mengunjungi Kawah Ratu. Kepundan kawah ini selalu mengeluarkan gas H2S dengan bau yang khas. Untuk menuju Kawah Ratu, juga harus melewati trek yang sulit dan jauh yaitu sekitar 14 kilometer berjalan kaki atau sekitar 3 hingga 4 jam perjalanan dengan berjalan kaki. Dan seperti kawasan lainnya di Gunung Bunder, selama perjalanan menuju Kawah Ratu, Anda akan menikmati pemandangan alam yang sungguh indah di kawasan ini. Begitu juga, ketika sampai di Kawah Ratu, Anda akan menjumpai fenomena alam yang begitu indah di Kawah Ratu, termasuk mendengar suara gemuruh kawah akibat adanya proses di perut bumi. Jangan lupa, selalu perhatikan petunjuk di kawasan Kawah Ratu untuk menghindari bahaya. Misalnya ada papan petunjuk larangan berkemah di lokasi tertentu. Atau juga ada larangan berjongkok agar tidak menghirup gas beracun. Dan juga perhatikan petunjuk status Kawah Ratu, apakah dalam kondisi normal atau berbahaya.


Dipandu oleh instruktur/pendaki yang berpengalaman Kawah Ratu merupakan objek wisata andalan gunung Salak berupa sungai dengan batu-batuan belerang yang menghasilkan panas, air yang mengalir terasa hangat ada juga yang sangat panas. Dengan pemandangan yang sangat indah Kawah dilokasi ini terdiri atas 3 kawah; Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu termasuk kawah aktif dan secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang. 3 belerang yang berkasiat menghilangkan penyakit kulit maupun memutihkan badan. Waktu sekitar tempuh sekitar 2-3 jam dari Pakis Asri.

PEMANDIAN AIR PANAS CIPARAI

PEMANDIAN AIR PANAS CIPARAI
NIKMATNYA BERWISATA KE PEMANDIAN AIR PANAS CIPARAI

BERWISATA ke pemandian air panas tampaknya belum menjadi pilihan banyak warga Jakarta dan sekitarnya. Barangkali karena konotasi air panas identik dengan mereka yang butuh berobat. Padahal, berendam di air panas sembari menikmati keindahan alam sungguh mengasyikkan.


Setiap tempat wisata air panas ini memiliki pesona. Tempat Wisata Air Panas Ciparai yang berada di lembah memiliki pemandangan indah
Menapaki 200 tangga
Mengunjungi Wisata Air Panas Ciparai tak hanya menikmati air panas di kolam dan pancuran. Akan tetapi, juga menikmati keindahan alam Pegunungan Halimun-Salak.
Lokasi wisata ini salah satu dari beberapa lokasi wisata di kawasan Gunung Salak Endah (GES) yang berhawa sejuk.
Air Panas Ciparai berada di sebuah lembah di mana di dasar lembah itu mengalir Sungai Cikuluwung. Dinding-dinding lembah itu adalah kaki Gunung Salak sehingga untuk mencapai pusat lokasi wisata ini harus menapaki sekitar 200 anak tangga.
Kondisi jalan setapak selebar dua meter itu cukup bagus, tetapi pengunjung tetap harus berhati-hati karena tebingnya cukup curam dan berbelok-belok, di sisi kiri terdapat jurang. Apalagi pagar besi untuk berpegangan tidak tepat berada di sisi jalan setapak tersebut. Dengan demikian, agak sulit untuk diandalkan oleh para pengunjung untuk jadi alat berpegangan saat menapaki jalan itu.
Di tempat ini terdapat beberapa bak berendam di beberapa kamar. Selain itu, air panas juga dialirkan ke delapan pancuran di pinggir Sungai Cikuluwung. Satu pancuran air panas malah berada di ”dinding” sungai.
”Selain airnya hangat juga mengandung mineral belerang dan garam. Jadi, banyak yang datang ke sini selain untuk wisata juga untuk mengobati penyakit kulit, rematik, atau sendi-sendi yang kaku,” kata Haji Unang, salah seorang pengelola saung di kawasan wisata itu.
”Pengunjung juga memanfaatkan kerak-kerak di dinding kolam. Kerak itu dilumurkan ke wajah atau badannya. Mereka bilang bisa untuk menghaluskan kulit dan menyembuhkan jerawat,” tambah Hajjah Siti Chorijah, istri Unang.
Untuk ke kawasan wisata ini, dari pusat Kota Bogor bisa menggunakan kendaraan umum atau angkutan kota. Namun, untuk bisa mencapai lokasi harus tiga kali berganti angkot, yakni dari Terminal Barangsiang.
Apabila penumpang angkot hanya seorang, sopir bisa saja tak bersedia meneruskan perjalanan sampai dekat tujuan. Untuk bisa sampai di tujuan harus diteruskan naik ojek. Biasanya ongkos naik ojek dari kawasan GES sampai lokasi wisata sekitar Rp 5.000.
Mengingat lokasi yang cukup jauh dari Kota Bogor dan terdapat banyak obyek wisata di kawasan ini, sebaiknya Anda bermalam.

JALAN MENUJU PEMANDIAN AIR PANAS CIPARAI

JALAN MENUJU PEMANDIAN AIR PANAS CIPARAI

CURUG CIGAMEA

CURUG CIGAMEA

ELANG JAWA DI GUNUNG SALAK

ELANG JAWA DI GUNUNG SALAK

SENJAKALA DI PAKIS ASRI

SENJAKALA DI PAKIS ASRI

HUTAN PINUS GUNUNG SALAK

HUTAN PINUS GUNUNG SALAK